Indonesiatodays.net Di tengah euforia Idul Adha yang kerap meninggalkan tumpukan sampah plastik, SMAN 1 Trenggalek memilih jalan lain. Bukan sekadar berkurban hewan, sekolah ini juga rutin “mengkurbankan” kebiasaan lama yang merusak lingkungan.
Pada perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, tradisi hijau itu kembali digulirkan. Panitia menyiapkan 350 besek anyaman bambu sebagai pengganti kantong plastik untuk membagikan daging kurban. Anyaman bambu ini bukan barang sekali pakai ia bernapas, menjaga kesegaran daging, dan saat tak terpakai, ia kembali ke tanah tanpa meninggalkan racun.
Muhajirin, salah satu panitia kurban, menjelaskan bahwa tradisi ini sudah mengakar sebagai bentuk kepedulian warga sekolah terhadap bumi. “Betul, kami pakai besek. Ini sudah tradisi tahunan,” ujarnya.
Uniknya, sekolah yang menyembelih satu ekor sapi ini tak sekadar membeli besek jadi. Mereka melibatkan pengrajin bambu lokal Trenggalek. Dengan demikian, tradisi ramah lingkungan ini merambat ke efek ekonomi memberi nafkah bagi perajin kecil di sekitar.
Meskipun harga besek lebih mahal daripada plastik, komitmen lingkungan tetap diutamakan. “Memang lebih mahal, tapi ini komitmen kami,” tegas Muhajirin.
Tak hanya soal wadah, panitia juga mengubah cara distribusi. Untuk menghindari kerumunan, daging kurban diantar langsung ke rumah-rumah warga dan mustahik. Sistem jemput bola ini memastikan ibadah tetap selamat tanpa mengundang keramaian yang berisiko.
SMAN 1 Trenggalek berharap, melalui anyaman bambu yang sederhana ini, kesadaran menjaga alam bisa terus tumbuh beriringan dengan semangat berbagi di hari raya. Sebab, kurban yang sesungguhnya bukan hanya menyembelih hewan, tapi juga mengorbankan kebiasaan lama yang merusak lingkungan.( harba)












