Surabaya, indonesiatodays.net – Kasus kejahatan seksual kerap terjadi terhadap siswi SMP di bawah umur yang mengaku mengenal pelaku melalui media sosial. Praktisi psikolog klinis dan forensik Surabaya, Riza Wahyuni, menjelaskan bahwa kasus serupa sudah terjadi sejak lima tahun lalu dan terjadi karena generasi Z, terutama yang memiliki masalah di dalam keluarga dan kurang perhatian orang tua, lebih banyak menghabiskan waktu bersosialisasi di dunia maya.
Menurut Riza, kejahatan seksual dengan modus serupa dapat terjadi karena pelaku predator seksual memanfaatkan celah tersebut untuk menarik simpati korban dan membuat mereka masuk dalam perangkapnya.
“Pelaku seringkali meyakinkan korban bahwa mereka orang baik dan bertanggungjawab serta memberikan perhatian kepada mereka. Setelah korban terjebak secara emosional, pendekatan melalui sosial media akan disudahi dengan bertemu secara langsung, dan pelaku akan melancarkan aksinya untuk merudapaksa korban,” Kata Reza Kamis (04/05/2023)
Riza menyarankan agar remaja memahami batasan yang boleh dan tidak boleh dibagikan di media sosial agar tidak mengundang kehadiran pelaku. Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kesadaran bersama-sama antara anak dan orang tua dalam keluarga dan memperbaiki komunikasi keluarga yang terbatas. Keluarga yang sederhana dan memiliki pengetahuan terbatas juga dapat menyebabkan keluarga tidak memahami apa yang terjadi kepada anaknya.
“Yang tidak dipahami, medsos tidak seindah dan seperti kenyataan, mereka tidak memahami cyber crime, ada hacker, dan macam-macam istilah. Di mana, itu sangat tidak dipahami mereka, terutama memiliki masalah di dalam keluarga, komunikasi keluarga tidak begitu baik, komunikasi terbatas, kemudian hubungan dalam orang tua,” ungkapnya.
Riza menekankan pentingnya pemahaman generasi Z tentang batasan yang boleh dan tidak boleh dibagikan di sosial media agar tidak mengundang kehadiran pelaku predator seksual. Selain itu, para pelaku juga sering meminta korban untuk menunjukkan bagian-bagian tubuh yang seharusnya tidak boleh dibagikan, seperti alat kelamin dan payudara.
“Anak video call disuruh menunjukkan alat kelaminnya, payudara, penis, video call disuruh pegang. Parahnya yang saya temukan yang tidak bertatap muka, anak gak tahu laki-laki itu wajahnya seperti apa, tapi mereka percaya bahwa dia orang baik,” imbuh Riza.
Riza menyarankan bahwa peningkatan kesadaran terhadap kejahatan seksual harus dilakukan bersama-sama oleh anak dan orang tua dalam keluarga. Masalah komunikasi keluarga menjadi faktor penting dalam hal ini, dan pola pengetahuan yang terbatas dapat menyebabkan keluarga tidak memahami apa yang terjadi pada anaknya. (Len)












