Berita  

Mas Ipin dan UIN Sunan Ampel Jadikan Lahan Bekas Tambak Udang di Panggul Jadi Tambak Mangrove

Indonesiatodays.net.
Tujukan Tambah Luasan Sabuk Hijau dari Ancaman Abrasi, Jaga Ekosistem dan Keselamatan

Bekerjasama dengan UIN Sunan Ampel Surabaya, Bupati Trenggalek sulap bekas Tambak Udang di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul menjadi Tambak Mangrove. Ide ini mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat dan pemilik tambak setempat. Terlihat ada 6 orang secara sukarela ikut dalam program Tambak Mangrove itu sebagai Pioneer awal.

Gagasan menjadikan lahan bekas Tambak Udang yang cenderung merusak ekosistem laut karena ada limbahnya, ditujukan oleh Mas Ipin dan UINSA untuk menambah luasan sabuk hijau dipesisir pantai di Kecamatan Panggul. Selain itu tujuan lainnya menjaga ancaman abrasi laut dan juga menjaga keselamatan masyarakat.

Diketahui bersama ancaman Mega Trus dapat menghantui pikiran masyarakat yang ada di pesisir pantai. Untuk mencegah atau melindungi akan hal ini salah satu caranya adalah bersahabat dengan alam. Mangrove dikenal sangat baik sebagai pagar laut selama ini makanya Mas Ipin dibantu UINSA sangat getol akan hal itu.

Kemudian peralihan Tambak Udang menjadi Tambak Mangrove bukan berarti menghilangkan mata pencarian masyarakat, tapi perekonomian mereka bisa bergeser dengan hal yang tidak jauh berbeda tapi lebih ramah dengan alam.  Seperti kata Mas Ipin saat menanam Mangrove di area bekas Tambak Udang, di sekitar Taman Kili-Kili, Selasa (11/11), “agenda hari ini inisiasi Tambak Mangrove kita sebutnya. Jadi ini kitakan berada di Delta Sungai yang biasanya cenderung ada abrasi, kita ingin menambah luasan sabuk hijau,” jelas Kepala Daerah yang dipercaya menjadi Wakil Ketua APKASI itu.

Cuma, sambungnya menambahkan “kalau ditanam di sini (tepi Delta sungai), kadang-kadang ketika debit tinggi dan masih kecil, akarnya belum kuat, akhirnya tidak kuat dan mereka hanyut. Kedua, ketika ini dijadikan tambak udang, maka alih fungsi lahannya sedikit berbahaya kedepan untuk ekosistem dan juga keselamatan,” imbuhnya.

Kita sama-sama tahu ancaman Mega Trus. Kita tidak tahu suatu saat ada gelombang tinggi maka kita butuh semakin banyak sabuk hijau. Alhamdulillah hari ini teman-teman KPH yang didalamnya ada masyarakat yang sebelumnya memanfaatkan tambak ini untuk sekedar menjadi tambak udang, kita bersama UINSA membuat tambak ini menjadi Tambak Mangrove.

Jadi bagus untuk ekologi dan juga bagus untuk ekonomi. Mangrove nanti bisa menjadi ekosistem alami bagi Udang, Ikan dan juga Kepiting. Jadi kita bisa memanen hasil dari ekosistem Mangrove. Kita lihat ini, setahun saja sudah segini, kita bayangkan beberapa tahun kedepan, ini akan menjadi Hutan Mangrove yang luar biasa dengan berbagai spesies.

Masih menurut Bupati Trenggalek itu, “ini bibitnya diambil dari Surabaya dan disini ada bibit yang juga bagus yang namanya Bogem yang dikenal lebih mudah adaptasinya. Dan tadi sudah ada yang sudah besar. Kemudian juga saya tadi senang ada 6 penambak yang sudah mendeklarasikan diri  menjadi Pioneer dengan total luasan dengan rata-rata seribuan hektar, jadi ada 6.000 m². Nanti dari situ kita mulai mencoba untuk mengajak yang lain ikut terlibat,” terangnya menambahkan.

Jadi sepanjang Panggul yang dulunya tambak dan beresiko pada limbah. Kemudian beresiko juga terhadap hilangnya ekosistem hijau di daerah pesisir, nah sekarang bisa menjadi hutan mangrove.

Tambak Udang menjadi Tambak Mangrove, perekonomian masyarakat menurut Mas Ipin bisa bergeser lebih mudah dan juga lebih murah. Karena kalau tambak butuh listrik, butuh Airator, butuh pakan dan lain sebagainya. Tetapi dengan adanya Mangrove sudah ada pakan alaminya dan tidak butuh Airator. Tinggal ada treatment ketika Kepitingnya ingin Soka tinggal treatment nya nanti kita latih.

Kemudian ekonomi lingkungan dan ekonomi pariwisata serta ekoturismnya nanti juga akan muncul. Kalau tambak apa yang mau kita jual sebagai destinasi. Kalau Mangrove dimana-mana kita lihat Ekowisata Mangrove bisa hidup. “Apalagi di sini diperkaya dengan Delta Sungai, nanti atraksi airnya bisa diberi juga, karena airnya tenang. Apalagi potensinya sangat bagus, tapi awalnya fungsi Hutan Mangrovenya dikembalikan,” tutupnya.

Sementara itu Andik Dwi Muttaqin, Ketua Prodi Ilmu Kelautan UINSA menambahkan, “program ini sebenarnya sudah cukup lama kita diskusikan dengan Mas Bupati, cuma baru hari ini bisa terselenggara karena terkait beberapa hal. Termasuk trial 500 bibit pertama yang tahun kemarin kita tanam,” katanya.

Apakah memungkinkan, kita juga diskusikan bersama masyarakat. Sehingga ini kita bangkit, berdaya bersama-sama. “Bukan hanya Pemerintah Daerah, misal yang akan mendapatkan hasilnya ketika jauh kedepan cita-citanya Mas Bupati Net Zero Carbon tercapai. Murni pemberdayaan untuk masyarakat, yang kita harapkan dari  sebuah ekosistem Mangrove yang bisa berkembang.  Seperti Nursery nya Kepiting, Udang, Ikan dan sebagainya,” tandasnya.

Sementara itu Ketua KTH Sido Rukun, Mohammad  Yasin menambahkan “dengan adanya program ini kami berterima kasih kepada Pak Bupati dan juga UINSA. Semoga nanti kedepannya hutan kita semakin lestari. Adanya tambak sebenarnya ini tidak boleh dan kita alihkan menjadi kawasan Tambak Mangrove ini. Tentunya saya setuju dan sangat Welcome sekali terhadap program ini,” tegasnya.
(Tgx.har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *