TRENGGALEK – Di bawah langit sore yang carah, arena lapangan Desa Sukorame menjadi saksi sebuah kisah luar biasa tentang keberanian, pengorbanan, dan persaudaraan sejati. Gelaran Seni Tiban Sambungan Paseduluran pada Minggu (21/9/2025) bukan sekadar pertunjukan budaya biasa, ini adalah ujian mental dan fisik yang mempertemukan jiwa-jiwa pemberani dari Trenggalek, Tulungagung, dan Blitar.
Ujian Sejati Karakter Manusia
Ribuan mata memandang dengan napas tertahan ketika para pendekar memasuki arena. Mereka tahu risikonya, luka, nyeri, bahkan darah mungkin akan mengalir. Namun di sinilah keajaiban dimulai. Bukan karena mereka tidak takut, tetapi karena mereka memilih untuk tetap melangkah meskipun takut.
“Saya melihat mata mereka,” bisik seorang penonton dengan suara bergetar. “Ada ketakutan di sana, tapi juga tekad yang membaja. Inilah yang membuat saya merinding, mereka memilih untuk berani.”
Sukarodin, pembina seni Tiban yang telah puluhan tahun mendalami tradisi ini, berdiri dengan mata berkaca-kaca. “Inilah ujian sesungguhnya bagi jiwa manusia. Bukan siapa yang menang atau kalah, tetapi siapa yang mampu bangkit setelah terjatuh, siapa yang masih bisa tersenyum setelah merasakan sakit.”
Drama yang Menggugah di Setiap Detik
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Mas Danang, Mas Jayeng, dan Mas Soim, para sesepuh yang menyelenggarakan acara mengamati dengan penuh khidmat. Mereka paham bahwa di hadapan mereka sedang berlangsung sebuah transformasi jiwa.
Saat luka mulai muncul, bukan rintihan kesakitan yang terdengar, melainkan semangat yang semakin membara sambil berjoget mengikuti lagu-lagu Jawa sebagai pengiring.
“Lihatlah mereka!” seru Sukarodin dengan suara yang bergetar penuh emosi. “Darah mengalir dari tubuh, tapi semangat mereka justru semakin tinggi. Inilah kekuatan manusia yang sesungguhnya!” ungkapnya
Yang paling memukau adalah momen-momen ketika seorang peserta terjatuh, kemudian bangkit dengan mata yang semakin bernyala. Bukan karena amarah, tetapi karena tekad untuk tidak menyerah pada keadaan.
Keajaiban Transformasi Jiwa
Namun puncak emosi terjadi di akhir pertarungan. Yang tadi berhadapan dengan penuh intensitas, tiba-tiba berpelukan erat. Air mata mengalir, bukan karena sakit fisik, tetapi karena terharu atas persaudaraan yang terjalin melalui ujian bersama.
“Di sinilah keajaiban Tiban yang sesungguhnya,” ujar Sukarodin
Masih menurut Sukarodin, mereka bertarung bukan untuk saling mengalahkan, tetapi untuk saling menguji dan menguatkan. Setelah melalui ujian bersama, ikatan mereka justru semakin kuat.
“Setiap tetes darah yang jatuh hari ini adalah investasi untuk karakter generasi mendatang,” refleksi Sukarodin. “Mereka akan ingat bahwa nenek moyang mereka adalah orang-orang yang berani menghadapi rasa takut, dan selalu memilih persaudaraan di atas permusuhan.” tegas Sukarodin
Inilah Tiban Sukorame, bukan sekadar seni tradisional, tetapi sekolah kehidupan yang mengajarkan bahwa keberanian sejati lahir ketika kita memilih untuk bangkit, dan persaudaraan sejati tumbuh ketika kita mampu merangkul mereka yang pernah langsung berhadapan dengan kita.(ji/red)












