TRENGGALEK – Puluhan warga korban banjir akibat diduga kesalahan teknis proyek bendungan yang berdampak pendangkalan Sungai di Kabupaten Trenggalek mengajukan tiga tuntutan tegas kepada pemerintah daerah dengan batas waktu satu bulan. Jika tidak ada respons konkret, mereka mengancam akan menggelar aksi demo besar-besaran ke kantor DPRD Kabupaten Trenggalek.
Hal tersebut disampaikan oleh Ali Rosidin koordinator aksi warga Desa Ngares Trenggalek.
Tiga Tuntutan Keras Warga
Dalam pernyataan sikap yang disampaikan, warga menuntut tiga hal mendasar:
Pertama, pemerintah harus segera merumuskan solusi relevan dan berdampak nyata bagi warga terdampak agar bisa menikmati kehidupan layak dan mendapat jaminan rasa aman.
“Selama ini kegiatan normalisasi atau pengelolaan sedimen akibat pendangkalan sungai tidak berdampak signifikan. Justru dampak banjir ke pemukiman warga semakin meluas,” tegas Ali perwakilan warga.
Kedua, warga menuntut dilakukannya peninjauan lokasi (penlock) segera terhadap 7 rumah warga atau 10 kepala keluarga yang terkena dampak langsung banjir akibat pendangkalan sungai.
Ketiga, warga memberikan ultimatum tegas kepada pemerintah:
“Kami beri waktu satu bulan untuk memberikan solusi. Kalau dalam sebulan belum ada jawaban, kami akan datangi lagi kantor DPRD Kabupaten Trenggalek dengan warga yang jauh lebih banyak.” Pinta Ali
Program Normalisasi Dinilai Gagal
Kritik tajam dilontarkan warga terhadap program normalisasi sungai yang selama ini berjalan. Menurut mereka, upaya pengelolaan sedimen dan normalisasi yang dilakukan pemerintah sama sekali tidak memberikan dampak signifikan dalam mengurangi risiko banjir.
“Bukannya membaik, dampak banjir justru semakin meluas ke pemukiman warga. Ini bukti nyata kegagalan program yang sudah berjalan,” kata Ali
Ancaman Demo Massal
Ultimatum satu bulan yang diberikan warga bukan gertakan kosong. Mereka mengancam akan menggelar aksi demonstrasi massal dengan melibatkan jauh lebih banyak warga jika tuntutan mereka diabaikan.
“Kami sudah sabar bertahun-tahun. Setiap musim hujan, rumah kami kebanjiran. Anak-anak takut, orang tua stress. Kami butuh jaminan keamanan, bukan janji-janji kosong lagi,” ungkap seorang ibu rumah tangga yang rumahnya langganan banjir.
Dampak yang Makin Meluas
Data yang dihimpun menunjukkan dampak banjir akibat pendangkalan sungai Ngares terus meluas. Dari yang awalnya hanya beberapa rumah, kini sudah mencapai 7 rumah dengan 10 kepala keluarga yang terdampak langsung.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya upaya penanganan yang efektif dari pemerintah daerah. Warga menilai pendekatan yang selama ini dilakukan tidak menyentuh akar permasalahan pendangkalan sungai Ngares.
Tuntutan Kehidupan Layak
Inti dari seluruh tuntutan warga adalah hak mereka untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan jaminan rasa aman.
“Kami tidak minta yang aneh-aneh. Kami cuma mau hidup tenang tanpa takut banjir setiap musim hujan. Itu hak dasar kami sebagai warga negara,” pungkas perwakilan warga.
Kini bola berada di tangan Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Satu bulan ke depan akan menentukan apakah mereka mampu memberikan solusi konkret atau harus berhadapan dengan gelombang protes massal dari warga yang sudah kehilangan kesabaran. (ji/red)












