TRENGGALEK – Sebuah terobosan menarik terjadi di pesisir selatan Jawa Timur. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pertama yang dibangun murni atas inisiatif swasta kini beroperasi di Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek.
Apresiasi Tinggi dari Pemerintah Pusat
Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, secara khusus meresmikan fasilitas ini pada Sabtu (6/9/2025). Aktivis reformasi 1998 ini memberikan apresiasi tinggi karena SPPG Munjungan menjadi pionir yang dibangun secara mandiri oleh pihak swasta.
“Ini sangat luar biasa. Sementara pemerintah pusat fokus membangun SPPG di daerah 3T – Terdepan, Terluar, dan Tertinggal – serta kantung kemiskinan, Trenggalek justru menunjukkan inisiatif mandiri yang patut dicontoh,” ujar Budiman.
Solusi untuk Daerah Terpencil
Budiman mengungkap tantangan pembangunan SPPG di daerah 3T, terutama masalah kepadatan penduduk yang tidak memenuhi syarat standar 3.000-4.000 penerima manfaat.
“Kami sedang berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk melonggarkan persyaratan. Cukup 500 penerima manfaat atau bahkan melalui kantin sekolah,” jelasnya.
Dari 2.000 Siswa Jadi 6.700+ Penerima Manfaat
Ahmad Riyadi, pengelola SPPG Munjungan, menceritakan perkembangan pesat fasilitas yang mulai beroperasi 25 Agustus lalu.
“Awalnya sasaran kami 2.000 siswa, dalam waktu singkat berkembang menjadi 3.019 siswa. Pada pertengahan September ini, kami mulai melayani ibu hamil, menyusui, dan balita, sehingga total mencapai 6.719 penerima manfaat,” kata Ahmad dengan bangga.
SPPG ini melayani empat desa: Bangun, Bendoroto, Tawing, dan sebagian Desa Munjungan.

Yang menarik dari SPPG Munjungan adalah komitmennya pada produk lokal, sesuai arahan Presiden. Ahmad menjelaskan keunggulan geografis wilayahnya:
Potensi Melimpah:
Beras, Kecamatan Munjungan memiliki produksi berlimpah dengan selep (penggilingan) sendiri
Ikan segar: Lokasi dekat laut memberikan akses mudah ke protein berkualitas
Telur dan daging ayam: Dipasok dari kecamatan terdekat seperti Kampak dan Gandusari
47 Relawan Lokal Jadi Kekuatan Utama
“Kami mengoptimalkan 47 relawan dari warga sekitar untuk operasional sehari-hari. Ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tapi juga menggerakkan ekonomi lokal,” tambah Ahmad.
Dampak Ganda: Gizi dan Ekonomi
SPPG Munjungan membuktikan bahwa program pemenuhan gizi bisa berdampak ganda. Selain memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat, program ini juga:
– Meningkatkan ekonomi petani dan peternak lokal
– Membuka lapangan kerja untuk warga sekitar
– Memperkuat ketahanan pangan daerah
Keberhasilan SPPG Munjungan diharapkan bisa menginspirasi daerah lain untuk mengembangkan inisiatif serupa, membuktikan bahwa kerjasama swasta-masyarakat bisa menjadi solusi efektif dalam percepatan pengentasan kemiskinan dan pemenuhan gizi nasional.
“SPPG Munjungan menjadi bukti nyata bahwa ketika swasta, masyarakat, dan pemerintah bersinergi, program pembangunan bisa berjalan lebih cepat dan berkelanjutan”, tutupnya












