Massa Pejuang Gayatri Demo DPRD Tulungagung, Tuntut KPK Usut Dugaan KKN Dinas Pendidikan

TULUNGAGUNG – Ratusan massa dari Pejuang Gayatri menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kabupaten Tulungagung pada Kamis (11/9). Mereka menuntut penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap dugaan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di Dinas Pendidikan Tulungagung.

Tuntutan Berdasarkan Dokumen Resmi              Dalam aksi tersebut, Yoyok Nugroho selaku juru bicara menyatakan bahwa tuntutan mereka berdasar pada Dokumen Penggunaan Anggaran (DPA) resmi yang telah mereka miliki.

“Kami tidak bicara kosong. Ini bukan gosip. Kami punya DPA. Dan angka tidak pernah berdusta,” kata Yoyok dalam orasinya.

Dugaan Mark Up Pengadaan Barang                              Pejuang Gayatri mengajukan beberapa dugaan penyimpangan anggaran, antara lain:

Pengadaan Laptop                  Harga tercatat dalam DPA: Rp 15.600.000 per unit            Harga di e-commerce:  Rp 9-10 juta (sudah termasuk PPN)   Jumlah: ratusan laptop

Pengadaan Interactive Flat Panel                                  Spesifikasi: 86 inci rakitan      Harga tercatat dalam DPA:Rp 210 juta per unit                    Harga di SIPLah dan marketplace edukasi: dibawah Rp 100 juta

“Di Dinas Pendidikan, laptop harga di bawah 10 juta, tapi di DPA seharga 15.600.000, dan ada ratusan laptop,” ujar Yoyok. Pernyataan tersebut disambut sorakan massa yang berteriak “Panggil KPK”.

Tantangan kepada DPRD    Billy, salah satu koordinator lapangan Pejuang Gayatri, menyampaikan tantangan kepada anggota DPRD.

“Keberadaan dewan hanya kemubadiran bagi masyarakat indonesia, kalau mereka berani keluar menemui kami, maka data juga akan kita keluarkan,” kata Billy.

Billy juga menyinggung aspek moral dalam dugaan penyimpangan tersebut. “Pendidikan itu seharusnya ladang pembebasan. Tapi kalau anggarannya dijadikan ladang permainan, maka yang tumbuh bukan generasi emas, tapi generasi yang mewarisi kebusukan sistem,” tegasnya.

Hingga berita ini disiarkan, pihak DPRD dan Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan yang disampaikan dalam aksi demonstrasi tersebut. (ji/red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *