TRENGGALEK – Dalam agenda reses Masa Sidang III Tahun 2024-2025,Anggota DPRD Trenggalek dari Fraksi PKB, M Hadi, menyapa langsung masyarakat di Desa Munjungan, Kecamatan Munjungan, demi menggali aspirasi masyarakat.
Agenda reses kali ini melibatkan mayoritas kalangan perempuan, selain tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuda setempat. Langkah ini menunjukkan komitmen M Hadi untuk mendorong peran perempuan dalam proses pembangunan daerah.
“Perempuan harus kita beri ruang untuk menyampaikan gagasan dan kebutuhan mereka, karena mereka juga bagian penting dari pembangunan di desa maupun daerah,” tegas M Hadi di sela kegiatan.
M Hadi Soroti Kerusakan Infrastruktur Pascabencana di Munjungan
Dalam dialog terbuka tersebut, berbagai aspirasi tersampaikan. Namun, yang paling mendesak adalah penanganan dampak bencana alam yang melanda Kecamatan Munjungan dalam beberapa waktu terakhir.
Warga menyoroti berbagai kerusakan, mulai dari jembatan yang putus, jalan yang tergerus banjir, hingga sejumlah titik rawan longsor yang belum tersentuh perbaikan.
Salah satu infrastruktur vital yang warga soroti adalah jembatan penghubung utama antara Kecamatan Munjungan dan Watulimo. Jembatan ini amblas diterjang banjir. Hingga kini, kondisi jembatan tersebut masih belum mendapat penanganan serius, memaksa warga menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh.
“Kerusakan infrastruktur di Munjungan harus segera kita tindaklanjuti. Ini bukan sekadar soal akses, tapi soal keselamatan dan kelangsungan ekonomi warga,” ujar M Hadi, menegaskan urgensi penanganan infrastruktur pasca bencana Trenggalek.
M Hadi menjelaskan, jika kegiatan reses ini bukan hanya agenda rutin, melainkan momentum strategis bagi wakil rakyat untuk menyerap keluhan dan kebutuhan masyarakat di daerah pemilihannya. Terlebih di wilayah seperti Munjungan, yang letak geografisnya cukup terpencil dan rawan bencana.
“Lewat reses ini, kami ingin memastikan suara warga pelosok seperti di Munjungan dan Dongko tetap sampai ke pemerintah daerah. Aspirasi ini nanti akan kami bawa ke DPRD untuk kami perjuangkan,” imbuhnya.
Masih menurut M Hadi, selain infrastruktur, sejumlah aspirasi lain dari kalangan perempuan juga mendapat perhatian serius. Usulan-usulan ini mencakup pelatihan keterampilan, program pemberdayaan ekonomi keluarga, hingga peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan ibu dan anak di desa-desa.
“Kami ingin perempuan Munjungan bisa lebih berdaya. Tidak hanya sebagai pelengkap di rumah tangga, tapi juga aktif berkontribusi dalam pembangunan desa,” pungkas M Hadi.
Kegiatan reses ini diharapkan mampu menjadi bagian dalam menentukan kebijakan untuk mempercepat penyelesaian berbagai persoalan yang selama ini terabaikan.
“Adanya kepastian terhadap kawasan rawan bencana di Trenggalek agar menjadikan prioritas dari pemerintah kabupaten,” tutupnya












