TRENGGALEK, Indonesiatodays.net – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Trenggalek tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Riak-riak politik hampir tidak terdengar ke permukaan, baik dari penantang petahana maupun partai politik (Parpol) pemilik kursi di parlemen.
Kondisi ini tentu kurang baik untuk demokrasi di Trenggalek. Rakyat tidak memiliki pilihan beragam untuk calon pemimpinnya. Calon tunggal menandakan tidak berjalanannya kaderisasi di internal partai.
Seorang pengamat lokal, Ganief Tanto Adiwijaya menilai sepinya peminat di Pilbup Trenggalek dikarenakan popularitas dan elektabilitas incumbent, Gus Ipin sapaan akrabnya, sangatlah menonjol. Mobilitas politik yang tinggi menjadi senjata pamungkas yang menakutkan lawan.
“Selain popularitas dan elektabilitas incumbent, ada satu hal lain yang menurut saya yang dapat membuat ciut nyali lawan adalah adanya tanggungan pinjaman dana PEN yang menjadi beban Anggaran Pendapatan Daerah Trenggalek sekitar Rp.64 miliar per tahun,” kata Ganif, Kamis (18/4/2024).
Lebih lanjut Ganif menambahkan beban hutang Pemda tersebut bisa jadi kegelisahan bagi calon Kepala Daerah baru karena ini bak puncak menara gunung es yang sewaktu-waktu bisa jadi petaka.
“Total APBD Trenggalek berapa? Yang bersumber dari PAD berapa? Jika dikurangi beban hutang tinggal berapa? Secara matematika ini akan menjadi pertimbangan,” ungkapnya.
Ganif menambahkan sejauh ini menurutnya hutang tersebut belum nampak terhadap kesejahteraan masyarakat Trenggalek.
“Hutang yang masa pengembaliannya sampai tahun 2027 tersebut tidak berdampak kepada kesejahteraan masyarakat Trenggalek. Bahkan akibat beban hutang yang harus diangsur setiap tahun Rp. 64 Miliar Anggaran pembangunan menjadi berkurang, itulah sebabnya pemeliharaan jalan di Trenggalek tidak pernah tuntas,” tandasnya.(mj)












